JAKARTA --Selasa (20/12) lalu, MA Al Azhar Asysyarif Filial MAN 4 Jakarta mengadakan workshop penulisan soal berbasis online. Tujuan workshop tersebut adalah untuk menambah kompetensi guru bidang studi dalam penulisan soal berbasis online sehingga berharap dapat diaplikasian dalam ujian-ujian di Madrasah, baik itu penilaian harian, tengah semester, atau akhir semester.
Workshop yang mengambil software WQC (Wondershare QuizCreator) gratis itu, dibuka oleh kepala MAN 4 Jakarta, Ismail Nur, Lc, MA yang didahului dengan pengarahan kepegawaian. Dalam pengarahannya, Ismail berpesan agar setiap guru berbangga atas jabatan yang disandang selama ini. "Guru adalah candu" demikian beliau menjelaskan. "Tidak ada guru yang mau dimutasi ke TU", jelasnya. Dalam pemaparannya juga, banyak sekali kelebihan guru dibanding pekerjaan lain. "Di manapun kita berada, jika ada "mantan" murid kita, pasti mereka menyapa dan mencium tangan", tandasnya.
Lebih lanjut beliau mengatakan untuk menjadi guru tidaklah mudah, ia harus lahir dari hati agar "rasa" guru benar-benar ada dalam dirinya. Ketika menghadapi siswa juga, guru harus memahami dan memaklumi kalau siswa tidak mengerti apa yang disampaikan guru. "untuk menyambungkan syaraf otak butuh waktu dan momentum", katanya. "Seperti saya dulu, kelas 1 - 3 SD itu raportnya merah, tapi ketika kelas 4 sudah berubah mendapat rangking. Itu artinya, nyambung syaraf otaknya ketika kelas 4", kenangnya.
Adapun dalam workshop tersebut, semua guru antusias mengikuti tahapan-tahapan kegiatan. Semua terkesan lepas tanpa beban baik mengajar maupun belajar. Target workshop tersebut, menurut panitia, dapat diterapkan atau diujicobakan untuk semester genap tahun depan. Semoga saja harapan terkabul. Sukses.
Kamis, 22 Desember 2016
Kamis, 15 Desember 2016
Selasa, 19 April 2016
AKREDITASI : MENUJU SEKOLAH/ MADRASAH BERKELAYAKAN
Seiring
dengan perkembangan zaman, peningkatan mutu pendidikan mutlak diperlukan untuk
menyeimbangi pergeseran teknologi yang kian pesat. Di Negara manapun,
pendidikan menempati posisi yang sangat vital dalam rangka peningkatan sumber
daya manusia (SDM) yang pada akhirnya menyentuh sendi-sendi kehidupan baik itu
ekonomi, kesehatan, sosial, etika, agama, maupun budaya. Oleh karena itu, sebuah
negara harus memberikan ruang selebar-lebarnya dan perhatian yang serius
terhadap perkembangan pendidikan nasional sehingga tujuan pendidikan nasional
dapat diwujudkan dengan baik.
Dalam konteks Indonesia, selain
mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana dituangkan dalam amandemen UUD 1945,
tujuan pendidikan nasional juga berfokus pada aspek-aspek pengembangan manusia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, cakap,
kreatif, mandiri dan bertanggungjawab dalam kerangka kemasyarakatan dan
kebangsaan.
Untuk
memenuhi tujuan pendidikan nasional, pemerintah melalui lembaga terkait
memberikan ukuran-ukuran pendidikan yang layak dilaksanakan oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada
peraturan pemerintah. Peraturan pemerintah yang memberikan standarisasi pendidikan
adalah peraturan pemerintah nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan atas
peraturan pemrintah no 19 tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan. Dalam
PP tersebut dijelaskan bahwa standar nasional pendidikan adalah kriteria
minimal tentang sistem pendidikan di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Artinya kriteria minimal ini terkait dengan segala aspek yang
berhubungan dengan berjalannya satuan pendidikan. Logikanya, jika standar
minimal saja tidak terpenuhi maka bagaimana mungkin sebuah satuan pendidikan
mampu berkontribusi dalam pencapaian tujuan nasional pendidikan. Mengapa
standar nasional pendidikan penting? Karena akan menjadi dasar dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam membantu mewujudkan
pendidikan nasional yang berkualitas.
Sangat
dipahami bahwa tujuan standar nasional pendidikan adalah menjamin mutu
pendidikan nasional guna mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat yang dilakukan secara terencana,
terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan baik lokal,
nasional, maupun global.
Dalam
kerangka yang lebih luas standar nasional sebenarrnya mencakup tiga sub sistem,
yaitu input, proses, dan output. Ketiga sub sistem tersebut dibreakdown secara rinci menjadi beberapa
poin standar nasional pendidikan yang dijelaskan sebagai berikut.
1.
Standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
2.
Standar
kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
3.
Standar proses
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada
satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
4.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria
pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam
jabatan.
5.
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat
berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja,
tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain,
yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan
teknologi informasi dan komunikasi.
6.
Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan
yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan
pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau
nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
7.
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen
dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
8.
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian
hasil belajar peserta didik.
Dari
uraian di atas jelas sekali keterkaitan antara tujuan pendidikan nasional dan
standar nasional pendidikan. Tujuan
pendidikan nasional akan sulit tercapai jika tidak memenuhi standar
nasional pendidikan. Untuk menilai sebuah satuan pendidikan sudah memenuhi
standar nasional pendidikan diperlukan suatu kegiatan penilaian yang sistematis
dan terarah. Kegiatan penilaian ini yang kemudian dinamakan akreditasi. Jadi
akreditasi adalah kegiatan penilaian tentang kelayakan suatu program dan/ atau satuan
pendidikan berdasar pada kriteria yang ditetapkan. Kriteria-kriteria yang
dimaksud merupakan pengejawantahan dari standar nasional pendidikan yang
berbasis pada tujuan pendidikan secara nasional. Dengan demikian maka kegiatan
akreditasi menjadi penting sebagai tolok ukur sebuah satuan pendidikan sudah
memenuhi standar pendidikan atau belum.
Jika
ditarik lebih lebih lebar, akreditasi tidak hanya untuk satuan pendidikan
tingkat dasar dan menengah tapi juga untuk perguruan tinggi. Hal ini menjadi
maklum karena posisi lembaga pendidikan baik tingkat dasar maupun tinggi dapat
dan harus berkontribusi dalam mewujudkan tujuan nasional pendidikan. Karena
itu, pemenuhan standar nasional pendidikan menjadi mutlak diterapkan dalam menjaga eksistensi sebuah satuan pendidikan.
Jika hal ini disepelekan maka yang terjadi adalah pembelajaran tanpa arah,
tanpa rencana, dan tanpa tujuan. Untuk memenuhi hal tersebut, akreditasi tidak
perlu dikhawatirkan apalagi ditakutkan. Akreditasi, selain memberikan
penilaian, juga sebagai kontrol bagi setiap satuan pendidikan agar tetap dalam rule dan agenda pendidikan secara
nasional.
Sangatlah
masuk akal dan mudah diterima, jika masyarakat mengedapankan aspek akreditasi
dalam penentuan jenjang pendidikannya. Predikat akreditasi dipercaya merupakan
gambaran bahwa sebuah lembaga pendidikan sudah melalui taraf penilaian yang
memadai oleh lembaga independen Badan Akreditai Nasional. Dengan sudah
diakreditasi, paling tidak, satuan pendidikan telah menempuh pemenuhan standar
nasional pendidikan. Karena tujuan akreditasi adalah agar satuan pendidikan
mendapat kelayakan menyelenggarakan pendidikannya. Oleh karena itu kegiatan
akreditasi harus disupport dan
didukung penuh oleh stake holder dan
civitas akademika satuan pendidikan baik yang berada di lingkungan kementerian
pendidikan dan kebudayaan maupun kemeterian agama sehingga pemenuhan standar
nasional pendidikan dapat terwujud. Marilah bersama menciptakan sekolah/
madrasah menuju sekolah/ madrasah yang berkelayakan.
Selasa, 05 April 2016
Statistik untuk Menguji Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim
Akhir-akhir
ini sering muncul headline “Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim”.
Menyebarnya pernyataan ini terkait dengan pencalonan Ahok menjadi kepala daerah
(gubernur) untuk periode kedua pada pemilihan gubernur DKI 2017 mendatang.
Tanpa berpikir panjang, kalimat tersebut mengemuka karena penolakan beberapa
kalangan muslim yang tidak sudi dan ridho Ahok menjadi pemimpin DKI yang
mayoritas penduduknya beragama Islam.
Terlepas dari kontroversi pemahaman pemuka agama atas penafsiran
ayat Alquran yang mengharamkan pemimpin non muslim di tengah-tengah mayoritas
penduduknya beragam islam, tulisan ini hanya akan melihat dari kajian ilmiah/
riset sosial yang biasa ditulis oleh mahasiswa dalam penyusunan tugas akhir
perkuliahan (skripsi). Jika kajian ini ada yang menindaklajuti, maka kesimpulan
akhir (hasilnya) dapat dipertangungjawabkan, sehingga bagi yang pro maupun
kontra dapat dengan mudah membantah berdasar pada data bukan asumsi yang
tendensius.
Kata “lebih baik” dalam matematika dapat disimbolkan dengan
>. Hal ini mengarah pada hipotesis penelitian dan statistik uji satu arah,
yang ujinya akan dilihat dari daerah sebelah kanan kurva normal.
Dalam penelitian, sudah tentu akan dirumuskan hipotesis
(dugaan sementara) atas sebuah variabel. Jika dikaitkan dengan variabel maka
bisa saja dibuat hipotesis sebagai berikut.
H0 :
pemimpin kafir adil lebih baik dari muslim zalim
H1 :
pemimpin kafir adil tidak lebih baik (lebih jelek) atau sama dari muslim zalim
Kemudian seorang peneliti akan mengambil data dari sampel
yang representatif untuk mendukung dan menguji hipotesis mana yang diterima.
Kesimpulannya, pernyataan “Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik
dari Muslim Zalim” atau sebaliknya, secara riset sosial belum dikatakan sebagai
kesimpulan atau dengan bahasa lain belum diuji secara statistik.
Saya kira uji ini perlu, karena yang terjadi adalah
penafsiran atas ayat yang masing-masing pendapat terbawa oleh kepentingan dan
berbasis bukan data lapangan. Padahal seharusnya statement itu harus didukung
data lapangan karena kepemimpinan terkait dengan hubungan antara manusia.
Jadi siapa yang mau meneliti??
Senin, 31 Agustus 2015
MEMBUAT TAB OTOMATIS SEPERTI DAFTAR ISI
Dalam membuat sebuah makalah, buku, ataupun yang lainnya pasti
membutuhkan daftar isi, untuk mempermudah pembaca menemukan intisari
halaman pada karya tulis yang akan dibacanya. Berbicara mengenai Ms.
Word, aplikasi komputer yang satu ini merupakan yang terbaik dalam hal
pengolahan kata. Hampir semua orang di dunia dalam mengetik untuk
mengerjakan tugas, membuat laporan, ataupun yang lainnya menggunakan
aplikasi milik Microsoft ini.
Di zaman yang semakin berkembang ini, mengetik tidak perlu menggunakan mesin tik lagi sebagaimana yang terdapat pada zaman dahulu. Kini untuk mengetik dapat dilakukan dengan laptop atau komputer yang tersedia program pengetikan seperti Ms. Word. Bagi Anda yang sedang mencari tutorial bagaimana membuat sebuah daftar isi yang baik dan benar, dibawah ini akan Espilen Blog jelaskan.
Cara mudah membuat daftar isi titik-titik rapi dan rata di Ms. Word ini dapat digunakan di Microsoft Word 2010, 2007, dan 2003. Dan, berikut ini adalah tutorialnya.
1. Bukalah Microsoft Office Word komputer Anda sehingga muncul lembar kerja yang masih kosong. Dan, pastikan bahwa menu Ruler telah aktif. Jika belum, silahkan : Klik ribbon View lalu centang pilihan Ruler.
Di zaman yang semakin berkembang ini, mengetik tidak perlu menggunakan mesin tik lagi sebagaimana yang terdapat pada zaman dahulu. Kini untuk mengetik dapat dilakukan dengan laptop atau komputer yang tersedia program pengetikan seperti Ms. Word. Bagi Anda yang sedang mencari tutorial bagaimana membuat sebuah daftar isi yang baik dan benar, dibawah ini akan Espilen Blog jelaskan.
Cara mudah membuat daftar isi titik-titik rapi dan rata di Ms. Word ini dapat digunakan di Microsoft Word 2010, 2007, dan 2003. Dan, berikut ini adalah tutorialnya.
1. Bukalah Microsoft Office Word komputer Anda sehingga muncul lembar kerja yang masih kosong. Dan, pastikan bahwa menu Ruler telah aktif. Jika belum, silahkan : Klik ribbon View lalu centang pilihan Ruler.
2. Setelah itu, ketik Daftar Isi pada awal paragraf yang di-rata tengahkan. Kemudian, pada paragraf kedua ketikkan Kata Pengantar. Lalu, klik pada area Ruler berwarna putih sehingga muncul tanda seperti huruf 'L' yang berwarna hitam. Buatlh tanda tersebut sebanyak 2 kali, dan aturlah posisinya seperti gambar berikut ini.
3. Berikutnya adalah klik kanan tanda "L" tersebut, sehingga muncul jendela tab seperti gambar dibawah ini.
Lalu aturlah sebagaimana berikut:
a. Pada bagian tab Stop Position & Default Tab Stop abaikan saja
b. Pada Alignment klik Right
c. Pada tab Leader pilih No. 2......
d. Klik tombol Set
e. OK
Sesudah melakukan langkah diatas, perhatikan bahwa tanda "L" diatas
telah berubah posisi menjadi terbalik. Untuk lebih jelasnya, silahkan
lihat gambar berikut.
4. Langkah selanjutnya, posisikan kursor pada Kata Pengantar. Lalu, klik tombol TAB yang
terdapat di keyboard, maka dengan otomatis titik-titik tersebut keluar
sampai tanda "L" yang terbalik seperti pada gambar berikut ini.
5. Selanjutnya, tekan tombol TAB kembali sehingga kursor meloncat ke tanda "L" yang kedua, dan ketikkan nomor halamannya
Setelah
selesai membuat titik-titik dan mengisi nomor halaman pada Kata
Pengantar. Anda tidak perlu lagi mengulangi langkah di atas, yang
diperlukan adalah melanjutkan pengetikan elemen dari Daftar Isi tersebut, seperti Kata Pengantar, Cerita Masa Lalu, dan lain-lain disesuaikan dengan tema karya tulis yang Anda buat.
Bagaimana, mudah bukan Cara Membuat Daftar Isi di Ms. Word 2007? Selamat mencoba, semoga bermanfaat.
Selasa, 30 Juni 2015
UAS ONLINE METODE NUMERIK
Perhatikan!
1. User ID sesuai nama di kehadiran kuliah (ejaannya diperhatikan) dan sambung, kecil semua.
contoh: anggiriadi
2. Password adalah NIM
3. Setiap mahasiswa hanya diperkenankan sekali ujian.
Silakan klik
SOAL METODE NUMERIK
1. User ID sesuai nama di kehadiran kuliah (ejaannya diperhatikan) dan sambung, kecil semua.
contoh: anggiriadi
2. Password adalah NIM
3. Setiap mahasiswa hanya diperkenankan sekali ujian.
Silakan klik
SOAL METODE NUMERIK
Senin, 22 Juni 2015
LIPAT KERTAS 42 x, sampai ke bulan???
Percayakah anda, bahwa dengan melipat kertas seukuran A4 sebanyak 42
kali, lalu hasil lipatannya ditumpuk, maka bentangan tumpukan itu bisa
mencapai bulan!
Bagaimana mungkin? Mari kita lihat perhitungan sederhananya. Rata-rata
ketebalan kertas adalah 0.1 mm. Kalau kita lipat selembar kertas sekali
akan diperoleh 2 tumpukan. Kalau ini dilipat lagi, maka pada lipatan
kedua akan menghasilkan 4 tumpukan (22). Demikian seterusnya, sehingga pada lipatan ke-42 akan diperoleh 242 tumpukan. Berarti ketebalannya adalah 242 × 0.1 × 10-6 km ≅ 439 805 km. Ini melebihi jarak rata-rata bumi - bulan sebesar 384 400 km. Jadi secara matematis masuk akal, bukan?
Tetapi pada prakteknya mungkinkah hal ini bisa dilakukan? Cobalah lipat secara berulang selembar kertas berukuran sedang. Maksimum kita dapat melakukannya hanya sampai 6-7 lipatan! Lagipula 242 tumpukan itu sama dengan 4 398 046 511 104 (hampir 4.4 triliun) tumpukan. Bisa dibayangkan andaikan bisa betapa kecilnya ukuran tumpukan itu. Mungkin wujud fisik kertas sudah tidak bisa dilihat lagi.
Inilah sebuah contoh yang sangat sederhana bahwa apa yang tidak mungkin secara praktis, bisa jadi masih mungkin secara matematis. Namun demikian, tidak sedikit fenomena-fenomena alam seperti prediksi gempa bumi, tsunami yang baru bisa didekati secara matematis. Konsep-konsep matematika umumnya bersifat abstrak. Dari konsep-konsep abstrak inilah kemudian banyak lahir model-model matematik yang digunakan untuk membantu mengungkap fenomena-fenomena alam atau permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Sang ilmuwan besar - Galileo menulis, "The great book of nature can be read only by those who know the language in which it was written. And that language is mathematics..." Karena itu, janganlah membenci matematika. Bila alat-alat canggih komunikasi, transportasi, dll. "dibedah", pasti di sana ditemukan matematika. Ia adalah alat bantu untuk bisa sukses dalam era persaingan global yang makin ketat dewasa ini...
Tetapi pada prakteknya mungkinkah hal ini bisa dilakukan? Cobalah lipat secara berulang selembar kertas berukuran sedang. Maksimum kita dapat melakukannya hanya sampai 6-7 lipatan! Lagipula 242 tumpukan itu sama dengan 4 398 046 511 104 (hampir 4.4 triliun) tumpukan. Bisa dibayangkan andaikan bisa betapa kecilnya ukuran tumpukan itu. Mungkin wujud fisik kertas sudah tidak bisa dilihat lagi.
Inilah sebuah contoh yang sangat sederhana bahwa apa yang tidak mungkin secara praktis, bisa jadi masih mungkin secara matematis. Namun demikian, tidak sedikit fenomena-fenomena alam seperti prediksi gempa bumi, tsunami yang baru bisa didekati secara matematis. Konsep-konsep matematika umumnya bersifat abstrak. Dari konsep-konsep abstrak inilah kemudian banyak lahir model-model matematik yang digunakan untuk membantu mengungkap fenomena-fenomena alam atau permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Sang ilmuwan besar - Galileo menulis, "The great book of nature can be read only by those who know the language in which it was written. And that language is mathematics..." Karena itu, janganlah membenci matematika. Bila alat-alat canggih komunikasi, transportasi, dll. "dibedah", pasti di sana ditemukan matematika. Ia adalah alat bantu untuk bisa sukses dalam era persaingan global yang makin ketat dewasa ini...
taken from Kutha Ardana
Langganan:
Postingan (Atom)





