Pemahaman yang paling dasar dari matematika adalah tentang bilangan. Apakah ada yang tahu ujung dari bilangan?misalnya bilangan asli saja? Bilangan asli dalam matematika adalah bilangan yang berawal dari 1, 2, .. ., hampir semua diam dan hanya menjawab tak hingga. Kenapa hanya tak hingga dan tidak berani mengatakan bilangan tertentu. Karena yang pasti, pada saat mengatakan bilangan tertentu akan ada bilangan lain setelah itu. Jadi, hakikatnya bilangan itu berjalan, meski ada filosuf yang mengatakan bahwa yang berjalan juga diam. Coba kita perhatikan stopwatch, ketika dimulai menghitung kita akan mengatakan sedang berjalan. Bilangan itu bergerak terus entah sampai mana, mungkin sampai Tuhan menghentikannya dari kemanfaatan untuk manusia.
Hidup juga berjalan, darah berjalan mengalir, bumi berjalan mengikuti putarannya, umur manusia berjalan mengikuti usianya (mati itu berhenti dari putaran usia), untuk bisa "hidup" manusia harus berjalan/bekerja. Dan simbol berjalan itu ka'bah saat jamaah thowaf mengelilingi kabah. Jika bumi berhenti berjalan dalam putaran, kita bisa menjawab apa yang terjadi.
"Bertasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan di bumi". Guru saya pernah bilang, kata ما dalam ayat di atas merujuk pada makhluk "tak berakal", artinya
jika yang dimaksud "apa-apa" itu adalah benda mati, maka immateri seperti matematika juga bertasbih, hanya bertasbihnya seperti apa kita yang belum bisa mendefinisikan. Perputaran pada saat _thowaf_ adalah tasbih sehingga saya menyimpulkan semua pergerakan benda itu tasbih. Mungkin itulah sebabnya ketika orang niat bergerak/bekerja untuk keluarga dianggap suatu ibadah. Bergerak untuk belajar juga ibadah. Orang yang bergerak berbuat jahat sejatinya juga menyimpang dari tasbih padaNya.
Tidak ada yang tidak bergerak, kecuali gerakan itu sendiri
Allah a'lam
Tampilkan postingan dengan label kajianislam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajianislam. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Juni 2019
Selasa, 12 Februari 2019
INTEGRAL : CARA MENGHTUNG NIKMAT ALLAH SWT
Di kesempatan awal ramadhan 1439 H ini saya ingin berbagi
tulisan tentang nikmat Allah yang kita terima begitu besar sekaligus mencoba
menghitungya dengan matematika. Hitungan ini hanya sebagai alat untuk mempertegas
tentang ayat yang dimaksud sekaligus menambah kesadaran kita sebagai hambaNya
yang harus senantiasa bersyukur.
Sebelumnya, saya mohon maaf pada guru-guru dan teman-teman
saya yang mungkin lebih paham bahasa arab dan kaidahnya. Saya hanya meraba-raba
sedikit pengetahuan yang saya miliki dan kiranya membuka maklum atas apa yang
saya tulis jika terjadi kesalahan. Satu lagi, kalau ada masukan japri aja
ya...xixixi
Ketika saya lulus MA (Madrasah Aliyah), acara lepas tasyakur
yang biasa dilakukan oleh madrasah-madrasah pasca ujian nasional, latar
acaranya bertuliskan “وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ
لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ”, artinya
kurang lebih “jika kamu menghitung/menyebut (mencacah) nikmat Allah maka tidak
akan bisa dihitung jumlahnya, tak berhingga”(QS. AnNahl: 18).
Sedikit saya urai ayat itu dalam pandangan nahwu dan shorof.
Bahwa kata تَعُدُّوا memiliki
akar kata عد. Saya ingat sekali, kata ini juga sewazan
dengan “madda”, “yamuddu”. Kalau dibahas lebih jauh “madda” itu bina mudho’af. Dalam
kamus Al-Munawwir, عد searti dengan hasiba
dan ahso yaitu menghitung. Ahso sendiri dalam masyarakat Cina sebagai
alat untuk menghitung. Kembali ke kata “madda”, تَعُدُّوا adalah bentuk fiil mudhori dengan
mukhotobnya “kalian”. Fiil mudhori (present tense/ continous tense) boleh
dilakukan berulang pada saat ini. Maksudnya, ayat itu menunjukan bahwa silakan
kita terus melakukan hitungan (mencacah) kapanpun, saat inipun. Saya lebih suka
menggunakan arti “mencacah” agar lebih mudah untuk menghitung. Dalam
matematika, ada dua istilah populer bilangan, yaitu diskret dan kontinu.
Diskret berarti dapat dihitung dengan mencacah, dengan tangan. Adapun kontinu
adalah pekat, bilangannya tidak bisa dihitung dengan tangan, misal 1,2234 dan
seterusnya. Kontinu itu mirip bilangan riil, atau bahasa sederhananya
pecahan-pecahan (meski tidak begitu tepat).
Jadi seolah-olah ayat itu ingin mengajak kita semua untuk
mencacah saja, tidak perlu dengan bilangan riil yang sulit, cukup dengan
menghitung menggunakan jari. Yang dicacah adalah nikmat Allah. Kata “nikmat”
juga unik, mengapa menggunakan kata dasar tunggal, bukan “niam” jamak dari kata
nikmat. Hal ini juga membuka kesadaran kita bahwa Allah swt memberikan
kesempatan kepada kita untuk menghitung (dengan jari) satu nikmat saja yang
Allah berikan. Sanggupkah? padahal sudah dimudahkan dengan hitungan diskret.
Sekarang saya mencoba menjelaskan penghitungan satu nikmat
saja dengan matematika. sebelum saya bahas lebih jauh, paling awal kita akan
sepakat dulu dengan istilah “nikmat”. Nikmat itu apa? Pembahasan kali ini, saya
tidak mengartikan nikmat sebagai kata sifat, tetapi digunakan sebagai kata
benda, yaitu pemberian Allah (KBBI online).
Nikmat Allah dapat berupa fisik dan nonfisik. Agar lebih
mudah, penghitungan nikmat ini juga dibatasi pada bentuk fisik. Nikmat fisik
ini lebih mudah dihitung daripada nonfisik. Sekarang, kita breakdown
lagi nikmat fisik yang lebih mudah lagi yaitu nikmat yang ada dalam diri kita.
Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan banyak lagi. Dari mata, kita
bisa buka lagi nikmat yang lain yaitu bagian-bagian mata misal pupil, retina,
kornea, saraf, alis, bulu mata dan sebagainya. Di dalam retina, misalnya,
terdapat syaraf-syaraf dan sel-sel lagi yang lebih kecil. Andaikan sel yang
terkecil dari yang terkecil itu diberi simbol
(baca: epsilon). Epsilon biasanya
melambangkan bilangan terkecil positif yang mendekati nol. Epsilon bisa kita
ilustrasikan sebagai sel yang terkecil dari yang terkecil tadi. Jika manusia
hidup dari pertama kali ditiupkan ruh sampai ajal menjemput berarti kita bisa
membuat interval waktu (t) sebagai 0 < t <
.
Hubungan antara waktu (t) dan kehidupan manusia dapat
dilukiskan secara grafis sebagi sebuah fungsi.
Andaikan luas di bawah kurva adalah luas nikmat sel terkecil
kehidupan setiap orang. Ingat luas sel terkecil (Epsilon). Kurva nampak
bergelombang tidak linier, karena memang kehidupan tidak selalu monoton, tidak
selalu bahagia atau sedih, tidak selalu konstan. Sekarang kita akan menghitung
luas daerah sel terkecil tersebut di bawah kurva. Menggunakan Riemann Sum, kita
bisa menghitung luas daerah di bawah kurva meski batas atasnya tidak beraturan.
Riemann sum merupakan metode menghitung luas kurva dengan cara membuat
partisi-partisi yang membentuk persegi panjang atau trapesium. Semakin banyak
partisi, tingkat kesalahannya semakin kecil.
Menghitung luas daerah yang dibatasi oleh a < t < b,
kita hanya menghitung dengan batas a dan b yangmerupakan sebagian
dari waktu kehidupan seseorang, menggunakan rumus integral sebagai berikut.
Jika dalam satu sel terkecil saja mendapatkan satu rumus
integral, maka integral rangkap berapa untuk menghitung satu syaraf dalam satu
komponen retina. Boleh jadi untuk satu sel saja didapat rumus intergral.
Padahal dalam syaraf terdapat sel-sel, lalu berapa rangkap
untuk satu syaraf. Lebih jauh lagi intergral rangkap berapa untuk satu nikmat
retina? TIDAK BISA DIHITUNG, itu baru retina, belum bagian mata yang lain. Oleh
karena itu, benarlah ayat Alquran sebagaimana dijelaskan di depan.
Wallahu a’lam
Senin, 06 Februari 2017
Rabu, 01 Februari 2017
Selasa, 05 April 2016
Statistik untuk Menguji Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim
Akhir-akhir
ini sering muncul headline “Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim”.
Menyebarnya pernyataan ini terkait dengan pencalonan Ahok menjadi kepala daerah
(gubernur) untuk periode kedua pada pemilihan gubernur DKI 2017 mendatang.
Tanpa berpikir panjang, kalimat tersebut mengemuka karena penolakan beberapa
kalangan muslim yang tidak sudi dan ridho Ahok menjadi pemimpin DKI yang
mayoritas penduduknya beragama Islam.
Terlepas dari kontroversi pemahaman pemuka agama atas penafsiran
ayat Alquran yang mengharamkan pemimpin non muslim di tengah-tengah mayoritas
penduduknya beragam islam, tulisan ini hanya akan melihat dari kajian ilmiah/
riset sosial yang biasa ditulis oleh mahasiswa dalam penyusunan tugas akhir
perkuliahan (skripsi). Jika kajian ini ada yang menindaklajuti, maka kesimpulan
akhir (hasilnya) dapat dipertangungjawabkan, sehingga bagi yang pro maupun
kontra dapat dengan mudah membantah berdasar pada data bukan asumsi yang
tendensius.
Kata “lebih baik” dalam matematika dapat disimbolkan dengan
>. Hal ini mengarah pada hipotesis penelitian dan statistik uji satu arah,
yang ujinya akan dilihat dari daerah sebelah kanan kurva normal.
Dalam penelitian, sudah tentu akan dirumuskan hipotesis
(dugaan sementara) atas sebuah variabel. Jika dikaitkan dengan variabel maka
bisa saja dibuat hipotesis sebagai berikut.
H0 :
pemimpin kafir adil lebih baik dari muslim zalim
H1 :
pemimpin kafir adil tidak lebih baik (lebih jelek) atau sama dari muslim zalim
Kemudian seorang peneliti akan mengambil data dari sampel
yang representatif untuk mendukung dan menguji hipotesis mana yang diterima.
Kesimpulannya, pernyataan “Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik
dari Muslim Zalim” atau sebaliknya, secara riset sosial belum dikatakan sebagai
kesimpulan atau dengan bahasa lain belum diuji secara statistik.
Saya kira uji ini perlu, karena yang terjadi adalah
penafsiran atas ayat yang masing-masing pendapat terbawa oleh kepentingan dan
berbasis bukan data lapangan. Padahal seharusnya statement itu harus didukung
data lapangan karena kepemimpinan terkait dengan hubungan antara manusia.
Jadi siapa yang mau meneliti??
Sabtu, 28 Maret 2015
catatan kilat tentang nikah
Menikah adalah cara Allah melegalformalkan hubungan antar lawan jenis, laki-laki dan perempuan. hubungan dua lain jenis ini diharapkan menjadi bagian dari "nafsin wahidah", jiwa yang satu. Dalam sebuah tafsir, jiwa yang satu ini adalah jiwa-jiwa yang diciptakan Allah di lauhul mahfudz. Kemudian, masing-masing jiwa tadi terpisah pada orang tua yang berbeda, pada daerah yang berbeda, pada pendidikan yang beda, semua serba beda. Pertemuan berikutnya, pada saat pernikahan sebenarnya menyatunya jiwa-jiwa yang terpisah tadi dengan harapan bersatunya jiwa itu akan menyamakan visi dan misi dalam menjalankan roda kehidupan bersama.
Tujuan pernikahan adalah terciptanya sakinah melalui proses mawaddah
warahmah. Jadi, sakinah adalah tujuan bukan proses. Seringkali kita mendengar
dan mengucap kata sakinah, mawaddah,warahmah yang sebenarnya keliru. Pernikahan
diawali dari bertemunya dua orang berbeda jenis yang saling suka, saling cinta.
Bertemunya dua insan ini ada dalam kebahagiaan dan kesenangan karena dalam diri
mereka sudah legal. Kebahagiaan inilah yang lebih cocok kita gunakan kata
mawaddah, kasih sayang. Cinta awal yang dilanjutkan dengan pernikahan akan
melahirkan mawaddah.
Dalam perjalanannya, rumah tangga akan selalu dihiasi dengan
berbagai cobaan dan fitnah. Kerikil-kerikil hidup yang sesungguhnya akan nampak
dari kehidupan rumha tangga. Tidak sedikit pasangan akan colaps dan berhenti
untuk melanjutkan hubungan itu hingga mengorbankan anak-anaknya. Dengan
berbagai alasan, kedua pasangan kompak dan sepakat untuk tidak menjaga
pernikahan sebagai sebuah proses menuju ridha Allah swt. Padahal orang beriman
diperintahkan untuk menjaga dirinya dan
keuarganya dari neraka. Neraka di sini bisa saja ditafsirkan neraka dunia,
permusuhan, kebencian,perceraian, dan sebagainya.
Namun demikian tidak sedikit pula, mereka yang sukses
menjaga pernikahan sampai Allah memanggilnya. Kekuatan menjaga pernikahan yang
ditaburi cobaan dan rintangan inilah yang melahirkan rohmah, kasih sayang.
Rohmah adalah kasih sayang, dua kata yang tidak bisa
dipisahkan. Kasih sayang setelah melewati proses kehidupan yang panjang dengan
berbagai perbedaan yang dimiliki masing-masing. Berbeda mawaddah yang berupa
kasih sayang dalam suka, dalam kbahagiaan awala bertemunya dua insan, rahmah
merupakan kasih sayang dalam duka, setelah melewati kehidupan bersama.
Jika mawaddah dan rohmah bisa dipertahankan maka akan
melahirkan ketenangan (sakinah). Inilah tujuan pernikahan yang insyAllah akan
diridhoi Allah swt. Sakinah bisa diartikan maskanah, tempat tinggal, atau sukun = diam. Artinya bisa saja untuk memulai hidup sakinah perlu tempat tinggal sebagai tempat berdiam kedua insan yang akan membuahkan keturunan. Meski demikian, hemat penulis sakinah itu urusan hati, karena Allah yang menurunkan sakinah. Jadi belum tentu orang yang sudah bertempat tinggal sudah sakinah. Secara dhohir mungkin demikian tapi batin belum tentu sakinah. untuk menciptakan itu semua sudah tentu kita perlu ketenangan dhohir yang ditandai tempat tinggal dan ketenanngan batin yang ditandai dengan menjalankan perintah Allah dan rosul-Nya.
bersambung,,,!
Langganan:
Postingan (Atom)
