DI SEPANJANG GARIS KEJADIAN, ADA TITIK YANG JARANG KITA JADIKAN LINGKARAN HIKMAH BAHKAN SELALU DIANGGAP SEBAGAI KURVA KETIDAKADILAN***KADANGKALA ALLAH MEMBUKA PINTU HIDAYAH HAMBANYA MELALUI MAKSIATNYA
Tampilkan postingan dengan label kajianislam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajianislam. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juni 2019

BILANGAN BERTASBIH???

Pemahaman yang paling dasar dari matematika adalah tentang bilangan. Apakah ada yang tahu ujung dari bilangan?misalnya bilangan asli saja? Bilangan asli dalam matematika adalah bilangan yang berawal dari 1, 2, .. ., hampir semua diam dan hanya menjawab tak hingga. Kenapa hanya tak hingga dan tidak berani mengatakan bilangan tertentu. Karena yang pasti, pada saat mengatakan bilangan tertentu akan ada bilangan lain setelah itu. Jadi, hakikatnya bilangan itu berjalan, meski ada filosuf yang mengatakan bahwa yang berjalan juga diam. Coba kita perhatikan stopwatch, ketika dimulai menghitung kita akan mengatakan sedang berjalan. Bilangan itu bergerak terus entah sampai mana, mungkin sampai Tuhan menghentikannya dari kemanfaatan untuk manusia.
Hidup juga berjalan, darah berjalan mengalir, bumi berjalan mengikuti putarannya, umur manusia berjalan mengikuti usianya (mati itu berhenti dari putaran usia), untuk bisa "hidup" manusia harus berjalan/bekerja. Dan simbol berjalan itu ka'bah saat jamaah thowaf mengelilingi kabah. Jika bumi berhenti berjalan dalam putaran, kita bisa menjawab apa yang terjadi.
"Bertasbih kepada Allah apa-apa  yang di langit dan di bumi". Guru saya pernah bilang, kata ما dalam ayat di atas merujuk pada makhluk "tak berakal", artinya
jika yang dimaksud "apa-apa" itu adalah benda mati, maka immateri seperti matematika juga bertasbih, hanya bertasbihnya seperti apa kita yang belum bisa mendefinisikan. Perputaran pada saat _thowaf_ adalah tasbih sehingga saya menyimpulkan semua pergerakan benda itu tasbih. Mungkin itulah sebabnya ketika orang niat bergerak/bekerja untuk keluarga dianggap suatu ibadah. Bergerak untuk belajar juga ibadah. Orang yang bergerak berbuat jahat sejatinya juga menyimpang dari tasbih padaNya.

Tidak ada yang tidak bergerak, kecuali gerakan itu sendiri


Allah a'lam

Selasa, 12 Februari 2019

INTEGRAL : CARA MENGHTUNG NIKMAT ALLAH SWT


Di kesempatan awal ramadhan 1439 H ini saya ingin berbagi tulisan tentang nikmat Allah yang kita terima begitu besar sekaligus mencoba menghitungya dengan matematika. Hitungan ini hanya sebagai alat untuk mempertegas tentang ayat yang dimaksud sekaligus menambah kesadaran kita sebagai hambaNya yang harus senantiasa bersyukur.
Sebelumnya, saya mohon maaf pada guru-guru dan teman-teman saya yang mungkin lebih paham bahasa arab dan kaidahnya. Saya hanya meraba-raba sedikit pengetahuan yang saya miliki dan kiranya membuka maklum atas apa yang saya tulis jika terjadi kesalahan. Satu lagi, kalau ada masukan japri aja ya...xixixi
Ketika saya lulus MA (Madrasah Aliyah), acara lepas tasyakur yang biasa dilakukan oleh madrasah-madrasah pasca ujian nasional, latar acaranya bertuliskan “وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ”, artinya kurang lebih “jika kamu menghitung/menyebut (mencacah) nikmat Allah maka tidak akan bisa dihitung jumlahnya, tak berhingga”(QS. AnNahl: 18).
Sedikit saya urai ayat itu dalam pandangan nahwu dan shorof. Bahwa kata تَعُدُّوا memiliki akar kata  عد. Saya ingat sekali, kata ini juga sewazan dengan “madda”, “yamuddu”. Kalau dibahas lebih jauh “madda” itu bina mudho’af. Dalam kamus Al-Munawwir, عد searti dengan hasiba dan ahso yaitu menghitung. Ahso sendiri dalam masyarakat Cina sebagai alat untuk menghitung. Kembali ke kata “madda”, تَعُدُّوا adalah bentuk fiil mudhori dengan mukhotobnya “kalian”. Fiil mudhori (present tense/ continous tense) boleh dilakukan berulang pada saat ini. Maksudnya, ayat itu menunjukan bahwa silakan kita terus melakukan hitungan (mencacah) kapanpun, saat inipun. Saya lebih suka menggunakan arti “mencacah” agar lebih mudah untuk menghitung. Dalam matematika, ada dua istilah populer bilangan, yaitu diskret dan kontinu. Diskret berarti dapat dihitung dengan mencacah, dengan tangan. Adapun kontinu adalah pekat, bilangannya tidak bisa dihitung dengan tangan, misal 1,2234 dan seterusnya. Kontinu itu mirip bilangan riil, atau bahasa sederhananya pecahan-pecahan (meski tidak begitu tepat).
Jadi seolah-olah ayat itu ingin mengajak kita semua untuk mencacah saja, tidak perlu dengan bilangan riil yang sulit, cukup dengan menghitung menggunakan jari. Yang dicacah adalah nikmat Allah. Kata “nikmat” juga unik, mengapa menggunakan kata dasar tunggal, bukan “niam” jamak dari kata nikmat. Hal ini juga membuka kesadaran kita bahwa Allah swt memberikan kesempatan kepada kita untuk menghitung (dengan jari) satu nikmat saja yang Allah berikan. Sanggupkah? padahal sudah dimudahkan dengan hitungan diskret.
Sekarang saya mencoba menjelaskan penghitungan satu nikmat saja dengan matematika. sebelum saya bahas lebih jauh, paling awal kita akan sepakat dulu dengan istilah “nikmat”. Nikmat itu apa? Pembahasan kali ini, saya tidak mengartikan nikmat sebagai kata sifat, tetapi digunakan sebagai kata benda, yaitu pemberian Allah (KBBI online).
Nikmat Allah dapat berupa fisik dan nonfisik. Agar lebih mudah, penghitungan nikmat ini juga dibatasi pada bentuk fisik. Nikmat fisik ini lebih mudah dihitung daripada nonfisik. Sekarang, kita breakdown lagi nikmat fisik yang lebih mudah lagi yaitu nikmat yang ada dalam diri kita. Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan banyak lagi. Dari mata, kita bisa buka lagi nikmat yang lain yaitu bagian-bagian mata misal pupil, retina, kornea, saraf, alis, bulu mata dan sebagainya. Di dalam retina, misalnya, terdapat syaraf-syaraf dan sel-sel lagi yang lebih kecil. Andaikan sel yang terkecil dari yang terkecil itu diberi simbol (baca: epsilon). Epsilon biasanya melambangkan bilangan terkecil positif yang mendekati nol. Epsilon bisa kita ilustrasikan sebagai sel yang terkecil dari yang terkecil tadi. Jika manusia hidup dari pertama kali ditiupkan ruh sampai ajal menjemput berarti kita bisa membuat interval waktu (t) sebagai 0 < t < .
Hubungan antara waktu (t) dan kehidupan manusia dapat dilukiskan secara grafis sebagi sebuah fungsi.


 
Andaikan luas di bawah kurva adalah luas nikmat sel terkecil kehidupan setiap orang. Ingat luas sel terkecil (Epsilon). Kurva nampak bergelombang tidak linier, karena memang kehidupan tidak selalu monoton, tidak selalu bahagia atau sedih, tidak selalu konstan. Sekarang kita akan menghitung luas daerah sel terkecil tersebut di bawah kurva. Menggunakan Riemann Sum, kita bisa menghitung luas daerah di bawah kurva meski batas atasnya tidak beraturan. Riemann sum merupakan metode menghitung luas kurva dengan cara membuat partisi-partisi yang membentuk persegi panjang atau trapesium. Semakin banyak partisi, tingkat kesalahannya semakin kecil.

 
Menghitung luas daerah yang dibatasi oleh a < t < b, kita hanya menghitung dengan batas a dan b yangmerupakan sebagian dari waktu kehidupan seseorang, menggunakan rumus integral sebagai berikut.
Jika dalam satu sel terkecil saja mendapatkan satu rumus integral, maka integral rangkap berapa untuk menghitung satu syaraf dalam satu komponen retina. Boleh jadi untuk satu sel saja didapat rumus intergral.
Padahal dalam syaraf terdapat sel-sel, lalu berapa rangkap untuk satu syaraf. Lebih jauh lagi intergral rangkap berapa untuk satu nikmat retina? TIDAK BISA DIHITUNG, itu baru retina, belum bagian mata yang lain. Oleh karena itu, benarlah ayat Alquran sebagaimana dijelaskan di depan.
Wallahu a’lam
Subhanallah.

Selasa, 05 April 2016

Statistik untuk Menguji Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim




Akhir-akhir ini sering muncul headline “Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim”. Menyebarnya pernyataan ini terkait dengan pencalonan Ahok menjadi kepala daerah (gubernur) untuk periode kedua pada pemilihan gubernur DKI 2017 mendatang. Tanpa berpikir panjang, kalimat tersebut mengemuka karena penolakan beberapa kalangan muslim yang tidak sudi dan ridho Ahok menjadi pemimpin DKI yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Terlepas dari kontroversi pemahaman pemuka agama atas penafsiran ayat Alquran yang mengharamkan pemimpin non muslim di tengah-tengah mayoritas penduduknya beragam islam, tulisan ini hanya akan melihat dari kajian ilmiah/ riset sosial yang biasa ditulis oleh mahasiswa dalam penyusunan tugas akhir perkuliahan (skripsi). Jika kajian ini ada yang menindaklajuti, maka kesimpulan akhir (hasilnya) dapat dipertangungjawabkan, sehingga bagi yang pro maupun kontra dapat dengan mudah membantah berdasar pada data bukan asumsi yang tendensius.   
Kata “lebih baik” dalam matematika dapat disimbolkan dengan >. Hal ini mengarah pada hipotesis penelitian dan statistik uji satu arah, yang ujinya akan dilihat dari daerah sebelah kanan kurva normal.
Dalam penelitian, sudah tentu akan dirumuskan hipotesis (dugaan sementara) atas sebuah variabel. Jika dikaitkan dengan variabel maka bisa saja dibuat hipotesis sebagai berikut.
H0           : pemimpin kafir adil lebih baik dari muslim zalim
H1           : pemimpin kafir adil tidak lebih baik (lebih jelek) atau sama dari muslim zalim
Kemudian seorang peneliti akan mengambil data dari sampel yang representatif untuk mendukung dan menguji hipotesis mana yang diterima.
Kesimpulannya, pernyataan “Pemimpin Kafir Adil Lebih Baik dari Muslim Zalim” atau sebaliknya, secara riset sosial belum dikatakan sebagai kesimpulan atau dengan bahasa lain belum diuji secara statistik.
Saya kira uji ini perlu, karena yang terjadi adalah penafsiran atas ayat yang masing-masing pendapat terbawa oleh kepentingan dan berbasis bukan data lapangan. Padahal seharusnya statement itu harus didukung data lapangan karena kepemimpinan terkait dengan hubungan antara manusia.
Jadi siapa yang mau meneliti??

Sabtu, 28 Maret 2015

catatan kilat tentang nikah

Menikah adalah cara Allah melegalformalkan hubungan antar lawan jenis, laki-laki dan perempuan. hubungan dua lain jenis ini diharapkan menjadi bagian dari "nafsin wahidah", jiwa yang satu. Dalam sebuah tafsir, jiwa yang satu ini adalah jiwa-jiwa yang diciptakan Allah di lauhul mahfudz. Kemudian, masing-masing jiwa tadi terpisah pada orang tua yang berbeda, pada daerah yang berbeda, pada pendidikan yang beda, semua serba beda. Pertemuan berikutnya, pada saat pernikahan sebenarnya menyatunya jiwa-jiwa yang terpisah tadi dengan harapan bersatunya jiwa itu akan menyamakan visi dan misi dalam menjalankan roda kehidupan bersama.
Tujuan pernikahan adalah terciptanya sakinah melalui proses mawaddah warahmah. Jadi, sakinah adalah tujuan bukan proses. Seringkali kita mendengar dan mengucap kata sakinah, mawaddah,warahmah yang sebenarnya keliru. Pernikahan diawali dari bertemunya dua orang berbeda jenis yang saling suka, saling cinta. Bertemunya dua insan ini ada dalam kebahagiaan dan kesenangan karena dalam diri mereka sudah legal. Kebahagiaan inilah yang lebih cocok kita gunakan kata mawaddah, kasih sayang. Cinta awal yang dilanjutkan dengan pernikahan akan melahirkan mawaddah.
Dalam perjalanannya, rumah tangga akan selalu dihiasi dengan berbagai cobaan dan fitnah. Kerikil-kerikil hidup yang sesungguhnya akan nampak dari kehidupan rumha tangga. Tidak sedikit pasangan akan colaps dan berhenti untuk melanjutkan hubungan itu hingga mengorbankan anak-anaknya. Dengan berbagai alasan, kedua pasangan kompak dan sepakat untuk tidak menjaga pernikahan sebagai sebuah proses menuju ridha Allah swt. Padahal orang beriman diperintahkan  untuk menjaga dirinya dan keuarganya dari neraka. Neraka di sini bisa saja ditafsirkan neraka dunia, permusuhan, kebencian,perceraian, dan sebagainya.
Namun demikian tidak sedikit pula, mereka yang sukses menjaga pernikahan sampai Allah memanggilnya. Kekuatan menjaga pernikahan yang ditaburi cobaan dan rintangan inilah yang melahirkan rohmah, kasih sayang.
Rohmah adalah kasih sayang, dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Kasih sayang setelah melewati proses kehidupan yang panjang dengan berbagai perbedaan yang dimiliki masing-masing. Berbeda mawaddah yang berupa kasih sayang dalam suka, dalam kbahagiaan awala bertemunya dua insan, rahmah merupakan kasih sayang dalam duka, setelah melewati kehidupan bersama.
Jika mawaddah dan rohmah bisa dipertahankan maka akan melahirkan ketenangan (sakinah). Inilah tujuan pernikahan yang insyAllah akan diridhoi Allah swt. Sakinah bisa diartikan maskanah, tempat tinggal, atau sukun = diam. Artinya bisa saja untuk memulai hidup sakinah perlu tempat tinggal sebagai tempat berdiam kedua insan yang akan membuahkan keturunan. Meski demikian, hemat penulis sakinah itu urusan hati, karena Allah yang menurunkan sakinah. Jadi belum tentu orang yang sudah bertempat tinggal sudah sakinah. Secara dhohir mungkin demikian tapi batin belum tentu sakinah. untuk menciptakan itu semua sudah tentu kita perlu ketenangan dhohir yang ditandai tempat tinggal dan ketenanngan batin yang ditandai dengan menjalankan perintah Allah dan rosul-Nya. 
bersambung,,,!