DI SEPANJANG GARIS KEJADIAN, ADA TITIK YANG JARANG KITA JADIKAN LINGKARAN HIKMAH BAHKAN SELALU DIANGGAP SEBAGAI KURVA KETIDAKADILAN***KADANGKALA ALLAH MEMBUKA PINTU HIDAYAH HAMBANYA MELALUI MAKSIATNYA

Rabu, 18 Maret 2020

HIKMAH COVID 19

Dalam beberapa bulan terakhir, dunia digunjangkan dengan wabah virus corona atau yang lebih dikenal dengan istilah Corona Virus Deases (COVID 19). Penamaan COVID 19 merujuk pada istilah kasus-kasus serupa yang sudah dikantongi PBB. Di banyak negara, covid 19 sangat mengganggu pergerakan roda pemerintahan. Kasus itu dapat memberikan instabilitas baik ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan.
Di Indonesia, covid 19 mulai terdeteksi masuk pada akhir Februari sampai awal Maret 2020. Perbincangan ramai saat warga Jepang yang bertandang ke Indonesia menjadi carrier bagi warga Depok. Pasca kejadian Depok, mulailah pemerintah buka suara terkait yang terjadi sebenarnya. Berita dan himbauan terus bertebaran di media sosial. Yang paling bergengsi adalah kebijakan Walikota Solo, disusul Gubernur DKI Jakarta, hingga Gubernur Jawa Tengah untuk menutup sementara sekolah-sekolah (belajar di rumah) sampai 14 hari ke depan yang dimulai tanggal 16 Maret lalu.
Tidak hanya itu, selang beberapa hari, untuk meminimalisir korban, Pemerintah melalui kemenPAN-RB mengeluarkan regulasi bahwa PNS bisa melakukan work from home (kerja dari rumah). Dari kejadian itu, paling tidak dapat diambil hikmah sebagai berikut.
  1. Masa kerja dari rumah, menjadi arena berkumpul bersama keluarga.
  2. Orangtua dapat terlibat langsung pembelajaran online bersama putra-putrinya.
  3. Bagi guru, dapat memanfaatkan pembelajaran online yang mungkin sejauh ini belum dipraktekan.
Itulah sedikit hikmah yang dapat diambil dari kejadian covid 19, pembaca dapat menambah yang lainnya.


Selasa, 25 Februari 2020

ADA APA DI AKM?

Assesment Kompetensi Minimal (AKM) menjadi istilah baru dan sedang hangat dibicarakan, baik dalam lingkungan sekolah maupun institusi yang berhubungan dengan pendidikan. AKM, demikian biasa disebut, merupakan penilaian pengganti ujian nasional (UN) yang sedianya akan dilaksanakan mulai tahun ajaran mendatang atau tahun ajaran 2020/2021.
Sebagai istilah baru, AKM menjadi buah bibir yang tak tuntas-tuntas diobrol. Apa dan bagaimana AKM itu dilaksanakan? bagaimana juga bentuk soal yang diberikan?

Sesuai rencana, Rabu (26/02/2020), Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta, akan melangsungkan simulasi asesement, yang menurut informasi, soalnya memiliki kemampuan bernalar tinggi.

Saya, sebagai bagian keluarga besar MAN 4, juga dijadwalkan akan mengikuti AKM pada hari yang sudah ditentukan. Saya sendiri belum tahu bentuk dan jenis soal yang akan dimunculkan. Dari berbagai sumber, soal berbentuk uraian, pilihan ganda, soal pilihan, dan survey karakter. 



Soal AKM berbeda-beda setiap guru, soal diacak dan tidak tahu seorang guru dapat soal yang mana. Sebagai gambaran, berikut saya tulis dalam blog ini.

Hari rabu, yang ditunggu, datang juga. Masuk laboratorium komputer pukul 07.30 WIB, sudah penuh teman-teman yang siap mengerjakan soal AKM. Hmm..lanjut saya login dan masuk aplikasi besutan PUSPENDIK itu. Ternyata, untuk soal AKM level satu jumlahnya 10 soal yang harus diselesaikan selama 15 menit, kemudian bagian berikutnya juga sama 10 soal dalam waktu 30 menit. Secara umum, bentuk soal AKM menyangkut masalah kasus yang kita harus menyelesaikan apabila berada dalam pemeran di kasus itu.

Bagian pertama, ada soal-soal pilihan ada juga soal kecocokan/keseuaian naskah soal dengan beberapa kesimpulan.

Pada bagian pertama, terdapat berita dan informasi tentang sampah plastik. Layaknya berita, naskah tersebut disusun seperti media masa, hanya saja beberapa paragraf. Pertanyaan kemudian muncul tentang pilihan yang sesuai dengan naskah. Selain itu, kita juga diminta untuk mengambil intisari yang sama dari beberapa naskah yang disajikan.

Soal uraian. Di soal ini disajikan sebuah data tentang jumlah langkah perhari dan usia harapan hidup di beberapa negara. Di situ ada keterangan bahwa menurut dokter semakin banyak langkah perhari, maka jumlah usia harapan hidup semakin tinggi. Kemudian ditanyakan apakah ada ketidaksesuaian data yang disajikan dengan pernyataan dokter tersebut dan alasannya kenapa. Ketikan huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita betul-betul harus bisa menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.

Untuk soal numeris, saya hanya menemukan kurang lebih 3 - 4 soal. Dalam soal tersebut, ada penjual martabak yang menyediakan 2 jenis martabak, tebal dan tipis. Masing-masing martabak memiliki empat rasa yang berbeda/isi yang berbeda. Selain itu, martabak juga dilapisi dua keju yang berbeda. Kita diminta menentukan berapa komposisi martabak yang dijual apabila ada yang membeli, juga pertanyaan terkait martabak jika begini, jika begitu.

Soal uraian. Di soal ini kita diminta memberikan alasan bagaimana caranya membuat teknologi nirkabel yang masih mahal diakses oleh publik, bisa lebih terjangkau daya belinya di masa depan. Ketikan huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita betul-betul harus bisa menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.

Soal pihan sesuai atau tidak sesuai. Di soal ini disajikan naskah bacaan yang cukup panjang, bahkan kita harus menyekrolnya agar bisa membaca keseluruhan. Temanya tentang Indonesia darurat sampah plastik. Kemudian ada dua atau tiga pernyataan terkait naskah tersebut, dan kita dimintai pendapat dengan cara memilih jawaban ‘sesuai’ atau ‘tidak sesuai’. Tentu saja kalau tidak memhami bacaan kita tidak akan bisa memilih dengan tepat.

Soal Pilihan Ganda. Di soal ini disajikan gambar poster bertema bebas kantong sampah plastik lengkap dengan data angka dan persentase. Kemudian kita dimintai pendapat apakah dengan membeli kantong plastik di pusat perbelajaan akan berdampak terhadap berkurangnya sampah plastik. Kita diminta memilih salah satu dari lima alternatif jawaban.

Soal pilihan. Di soal ini disajikan sebuah diagram. Di situ ada titik-titik yang letaknya acak bertuliskan nama-nama Negara. Kemudian kita disuruh menentukan letak sebuah Negara dibandingkan dengan Negara lain. Apakah terletak di atas, di bawah, samping kiri atau kanan, atau yang paling ujung kanan atau kiri. Di sini juga dibutuhkan ketelitian, titik-titik itu letaknya terlalu dekat dan berdempetan. Cukup membingungkan, dan harus membelalakkan mata agar lebih jelas.

Soal pilihan opini atau fakta. Di soal ini disajikan sebuah gambar tentang prilaku belanja seseorang. Kemudian ada lima pernyataan terkait dengan gambar. Di setiap pernyataan kita diminta memilih apakah pernyataan itu ‘opini’ atau ‘fakta’.

Soal AKM berbeda-beda setiap guru, soal diacak dan tidak tahu seorang guru dapat soal yang mana. Sebagai gambaran, berikut saya tulis dalam blog ini.

Hari rabu, yang ditunggu, datang juga. Masuk laboratorium komputer pukul 07.30 WIB, sudah penuh teman-teman yang siap mengerjakan soal AKM. Hmm..lanjut saya login dan masuk aplikasi besutan PUSPENDIK itu. Ternyata, untuk soal AKM level satu jumlahnya 10 soal yang harus diselesaikan selama 15 menit, kemudian bagian berikutnya juga sama 10 soal dalam waktu 30 menit. Secara umum, bentuk soal AKM menyangkut masalah kasus yang kita harus menyelesaikan apabila berada dalam pemeran di kasus itu.

Bagian pertama, ada soal-soal pilihan ada juga soal kecocokan/keseuaian naskah soal dengan beberapa kesimpulan.

Pada bagian pertama, terdapat berita dan informasi tentang sampah plastik. Layaknya berita, naskah tersebut disusun seperti media masa, hanya saja beberapa paragraf. Pertanyaan kemudian muncul tentang pilihan yang sesuai dengan naskah. Selain itu, kita juga diminta untuk mengambil intisari yang sama dari beberapa naskah yang disajikan.

Soal uraian. Di soal ini disajikan sebuah data tentang jumlah langkah perhari dan usia harapan hidup di beberapa negara. Di situ ada keterangan bahwa menurut dokter semakin banyak langkah perhari, maka jumlah usia harapan hidup semakin tinggi. Kemudian ditanyakan apakah ada ketidaksesuaian data yang disajikan dengan pernyataan dokter tersebut dan alasannya kenapa. Ketikan huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita betul-betul harus bisa menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.

Untuk soal numeris, saya hanya menemukan kurang lebih 3 - 4 soal. Dalam soal tersebut, ada penjual martabak yang menyediakan 2 jenis martabak, tebal dan tipis. Masing-masing martabak memiliki empat rasa yang berbeda/isi yang berbeda. Selain itu, martabak juga dilapisi dua keju yang berbeda. Kita diminta menentukan berapa komposisi martabak yang dijual apabila ada yang membeli, juga pertanyaan terkait martabak jika begini, jika begitu.

Soal uraian. Di soal ini kita diminta memberikan alasan bagaimana caranya membuat teknologi nirkabel yang masih mahal diakses oleh publik, bisa lebih terjangkau daya belinya di masa depan. Ketikan huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita betul-betul harus bisa menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.

Soal pihan sesuai atau tidak sesuai. Di soal ini disajikan naskah bacaan yang cukup panjang, bahkan kita harus menyekrolnya agar bisa membaca keseluruhan. Temanya tentang Indonesia darurat sampah plastik. Kemudian ada dua atau tiga pernyataan terkait naskah tersebut, dan kita dimintai pendapat dengan cara memilih jawaban ‘sesuai’ atau ‘tidak sesuai’. Tentu saja kalau tidak memhami bacaan kita tidak akan bisa memilih dengan tepat.

Soal Pilihan Ganda. Di soal ini disajikan gambar poster bertema bebas kantong sampah plastik lengkap dengan data angka dan persentase. Kemudian kita dimintai pendapat apakah dengan membeli kantong plastik di pusat perbelajaan akan berdampak terhadap berkurangnya sampah plastik. Kita diminta memilih salah satu dari lima alternatif jawaban.

Soal pilihan. Di soal ini disajikan sebuah data dan beberapa alternatif jawaban yang berbentuk grafik/diagram sumbu x,y. Kita di suruh memilih gambar grafik mana yang benar sesuai dengan data yang disajikan. Kita boleh memilih jawaban lebih dari satu. Kita harus teliti, sumbu tegak untuk data apa, dan sumbu mendatar untuk data apa. Kalau tidak, kita akan salah memilih.

Soal pilihan. Di soal ini disajikan sebuah diagram. Di situ ada titik-titik yang letaknya acak bertuliskan nama-nama Negara. Kemudian kita disuruh menentukan letak sebuah Negara dibandingkan dengan Negara lain. Apakah terletak di atas, di bawah, samping kiri atau kanan, atau yang paling ujung kanan atau kiri. Di sini juga dibutuhkan ketelitian, titik-titik itu letaknya terlalu dekat dan berdempetan. Cukup membingungkan, dan harus membelalakkan mata agar lebih jelas.

Soal pilihan opini atau fakta. Di soal ini disajikan sebuah gambar tentang prilaku belanja seseorang. Kemudian ada lima pernyataan terkait dengan gambar. Di setiap pernyataan kita diminta memilih apakah pernyataan itu ‘opini’ atau ‘fakta’.

Sesi berikutnya adalah survey karakter dengan durasi waktu 30 menit. Kebetulan soal yang saya kerjakan sebanyak 13 soal. Bentuk soalnya pilihan ganda. Di soal diberikan stimulus, kemudian kita disuruh berpendapat dengan cara memilih salah satu dari lima alternatif jawaban. Alhamdulillah redaksi soal dan alternatif jawabannya yang tersedia tidak terlalu panjang. Adapun soal-soal yang saya ingat adalah:

Si A adalah ketua OSIS akan mengadakan pertunjukan pentas seni dengan menyajikan budaya nasional. Tapi ada temannya yang menginginkan yang dipentaskan bernuansa Korea. Apa yang harus dilakukan A agar pentas tersebut tetap berjalan?

Ada juga, si A sudah menabung untuk membeli HP tetapi teman sebangkunya tidak memiliki buku karena kena musibah. Kita diminta memberi solusi pada kasus tersebut.

Si A adalah siswa SMP. Karena ada sesuatu hal ia agak kesiangan ketika hendak berangkat sekolah, tapi A tidak ingin terlambat. Kebetulan di rumah ada sepeda motor milik Ibu. Apa yang harus dilakukan oleh si A?

Jadi, tidak ada apa-apa di AKM, biasa saja, soalnya hanya kasus, mungkin agak subjektif juga ya. Apapun, sila simpulkan sendiri...😍


referensi : gurusiana.id

Senin, 24 Juni 2019

BILANGAN BERTASBIH???

Pemahaman yang paling dasar dari matematika adalah tentang bilangan. Apakah ada yang tahu ujung dari bilangan?misalnya bilangan asli saja? Bilangan asli dalam matematika adalah bilangan yang berawal dari 1, 2, .. ., hampir semua diam dan hanya menjawab tak hingga. Kenapa hanya tak hingga dan tidak berani mengatakan bilangan tertentu. Karena yang pasti, pada saat mengatakan bilangan tertentu akan ada bilangan lain setelah itu. Jadi, hakikatnya bilangan itu berjalan, meski ada filosuf yang mengatakan bahwa yang berjalan juga diam. Coba kita perhatikan stopwatch, ketika dimulai menghitung kita akan mengatakan sedang berjalan. Bilangan itu bergerak terus entah sampai mana, mungkin sampai Tuhan menghentikannya dari kemanfaatan untuk manusia.
Hidup juga berjalan, darah berjalan mengalir, bumi berjalan mengikuti putarannya, umur manusia berjalan mengikuti usianya (mati itu berhenti dari putaran usia), untuk bisa "hidup" manusia harus berjalan/bekerja. Dan simbol berjalan itu ka'bah saat jamaah thowaf mengelilingi kabah. Jika bumi berhenti berjalan dalam putaran, kita bisa menjawab apa yang terjadi.
"Bertasbih kepada Allah apa-apa  yang di langit dan di bumi". Guru saya pernah bilang, kata ما dalam ayat di atas merujuk pada makhluk "tak berakal", artinya
jika yang dimaksud "apa-apa" itu adalah benda mati, maka immateri seperti matematika juga bertasbih, hanya bertasbihnya seperti apa kita yang belum bisa mendefinisikan. Perputaran pada saat _thowaf_ adalah tasbih sehingga saya menyimpulkan semua pergerakan benda itu tasbih. Mungkin itulah sebabnya ketika orang niat bergerak/bekerja untuk keluarga dianggap suatu ibadah. Bergerak untuk belajar juga ibadah. Orang yang bergerak berbuat jahat sejatinya juga menyimpang dari tasbih padaNya.

Tidak ada yang tidak bergerak, kecuali gerakan itu sendiri


Allah a'lam

Selasa, 12 Februari 2019

INTEGRAL : CARA MENGHTUNG NIKMAT ALLAH SWT


Di kesempatan awal ramadhan 1439 H ini saya ingin berbagi tulisan tentang nikmat Allah yang kita terima begitu besar sekaligus mencoba menghitungya dengan matematika. Hitungan ini hanya sebagai alat untuk mempertegas tentang ayat yang dimaksud sekaligus menambah kesadaran kita sebagai hambaNya yang harus senantiasa bersyukur.
Sebelumnya, saya mohon maaf pada guru-guru dan teman-teman saya yang mungkin lebih paham bahasa arab dan kaidahnya. Saya hanya meraba-raba sedikit pengetahuan yang saya miliki dan kiranya membuka maklum atas apa yang saya tulis jika terjadi kesalahan. Satu lagi, kalau ada masukan japri aja ya...xixixi
Ketika saya lulus MA (Madrasah Aliyah), acara lepas tasyakur yang biasa dilakukan oleh madrasah-madrasah pasca ujian nasional, latar acaranya bertuliskan “وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ”, artinya kurang lebih “jika kamu menghitung/menyebut (mencacah) nikmat Allah maka tidak akan bisa dihitung jumlahnya, tak berhingga”(QS. AnNahl: 18).
Sedikit saya urai ayat itu dalam pandangan nahwu dan shorof. Bahwa kata تَعُدُّوا memiliki akar kata  عد. Saya ingat sekali, kata ini juga sewazan dengan “madda”, “yamuddu”. Kalau dibahas lebih jauh “madda” itu bina mudho’af. Dalam kamus Al-Munawwir, عد searti dengan hasiba dan ahso yaitu menghitung. Ahso sendiri dalam masyarakat Cina sebagai alat untuk menghitung. Kembali ke kata “madda”, تَعُدُّوا adalah bentuk fiil mudhori dengan mukhotobnya “kalian”. Fiil mudhori (present tense/ continous tense) boleh dilakukan berulang pada saat ini. Maksudnya, ayat itu menunjukan bahwa silakan kita terus melakukan hitungan (mencacah) kapanpun, saat inipun. Saya lebih suka menggunakan arti “mencacah” agar lebih mudah untuk menghitung. Dalam matematika, ada dua istilah populer bilangan, yaitu diskret dan kontinu. Diskret berarti dapat dihitung dengan mencacah, dengan tangan. Adapun kontinu adalah pekat, bilangannya tidak bisa dihitung dengan tangan, misal 1,2234 dan seterusnya. Kontinu itu mirip bilangan riil, atau bahasa sederhananya pecahan-pecahan (meski tidak begitu tepat).
Jadi seolah-olah ayat itu ingin mengajak kita semua untuk mencacah saja, tidak perlu dengan bilangan riil yang sulit, cukup dengan menghitung menggunakan jari. Yang dicacah adalah nikmat Allah. Kata “nikmat” juga unik, mengapa menggunakan kata dasar tunggal, bukan “niam” jamak dari kata nikmat. Hal ini juga membuka kesadaran kita bahwa Allah swt memberikan kesempatan kepada kita untuk menghitung (dengan jari) satu nikmat saja yang Allah berikan. Sanggupkah? padahal sudah dimudahkan dengan hitungan diskret.
Sekarang saya mencoba menjelaskan penghitungan satu nikmat saja dengan matematika. sebelum saya bahas lebih jauh, paling awal kita akan sepakat dulu dengan istilah “nikmat”. Nikmat itu apa? Pembahasan kali ini, saya tidak mengartikan nikmat sebagai kata sifat, tetapi digunakan sebagai kata benda, yaitu pemberian Allah (KBBI online).
Nikmat Allah dapat berupa fisik dan nonfisik. Agar lebih mudah, penghitungan nikmat ini juga dibatasi pada bentuk fisik. Nikmat fisik ini lebih mudah dihitung daripada nonfisik. Sekarang, kita breakdown lagi nikmat fisik yang lebih mudah lagi yaitu nikmat yang ada dalam diri kita. Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan banyak lagi. Dari mata, kita bisa buka lagi nikmat yang lain yaitu bagian-bagian mata misal pupil, retina, kornea, saraf, alis, bulu mata dan sebagainya. Di dalam retina, misalnya, terdapat syaraf-syaraf dan sel-sel lagi yang lebih kecil. Andaikan sel yang terkecil dari yang terkecil itu diberi simbol (baca: epsilon). Epsilon biasanya melambangkan bilangan terkecil positif yang mendekati nol. Epsilon bisa kita ilustrasikan sebagai sel yang terkecil dari yang terkecil tadi. Jika manusia hidup dari pertama kali ditiupkan ruh sampai ajal menjemput berarti kita bisa membuat interval waktu (t) sebagai 0 < t < .
Hubungan antara waktu (t) dan kehidupan manusia dapat dilukiskan secara grafis sebagi sebuah fungsi.


 
Andaikan luas di bawah kurva adalah luas nikmat sel terkecil kehidupan setiap orang. Ingat luas sel terkecil (Epsilon). Kurva nampak bergelombang tidak linier, karena memang kehidupan tidak selalu monoton, tidak selalu bahagia atau sedih, tidak selalu konstan. Sekarang kita akan menghitung luas daerah sel terkecil tersebut di bawah kurva. Menggunakan Riemann Sum, kita bisa menghitung luas daerah di bawah kurva meski batas atasnya tidak beraturan. Riemann sum merupakan metode menghitung luas kurva dengan cara membuat partisi-partisi yang membentuk persegi panjang atau trapesium. Semakin banyak partisi, tingkat kesalahannya semakin kecil.

 
Menghitung luas daerah yang dibatasi oleh a < t < b, kita hanya menghitung dengan batas a dan b yangmerupakan sebagian dari waktu kehidupan seseorang, menggunakan rumus integral sebagai berikut.
Jika dalam satu sel terkecil saja mendapatkan satu rumus integral, maka integral rangkap berapa untuk menghitung satu syaraf dalam satu komponen retina. Boleh jadi untuk satu sel saja didapat rumus intergral.
Padahal dalam syaraf terdapat sel-sel, lalu berapa rangkap untuk satu syaraf. Lebih jauh lagi intergral rangkap berapa untuk satu nikmat retina? TIDAK BISA DIHITUNG, itu baru retina, belum bagian mata yang lain. Oleh karena itu, benarlah ayat Alquran sebagaimana dijelaskan di depan.
Wallahu a’lam
Subhanallah.