Selasa, 21 September 2021
Sabtu, 20 Juni 2020
Selasa, 31 Maret 2020
My Daring, Izinkan Aku Berkisah
Tidak ada istilah "gara-gara" dalam
kamus hidup, tanpa "gara-gara" kehidupan tetap jalan. Tetapi bercurah tentang
bagaimana kondisi dan situasi saat ini, menurut saya pantas untuk dijalani,
ditulis dan dikenangi.
Saya menulis ini, bingung harus
diawali dari mana. Saya menulis cerita ini untuk, paling tidak, mengenang,
bahwa pada suatu masa, pernah ada kondisi yang mewajibkan atau istilah dalam
kitab “laa budda” bagi siapapun yang punya aktifitas bekerja harian (kantor)
menggunakan internet. Masa itu disebut dalam banyak tulisan sebagai WFH, Work
from Home, tak terkecuali saya, sebagai pengajar.
Awalnya, di akhir tahun 2019,
dunia digegerkan dengan makhluk kecil bernama corona. Corona adalah ragam virus
yang derivasinya sama dengan SARS dan MERS. Entah, nama-nama itu dari mana,
tapi jika mengingat nama type mobil sedan “Corona”, nampaknya istilah corona
memang sudah sejak dari dulu ada. Tetapi, Itu urusan ilmuwan-ilmuwan biokimia
dan saudara-saudaranya. Saya hanya akan fokus pada disiplin ilmu saya.
Seiring berjalan waktu, corona
kemudian mulai “bermesraan” dengan masyarakat Indonesia, yang berdasar
informasi, diawali dari warga Depok terinfeksi sekitar minggu ke-2 bulan Maret
2020. Berawal dari Depok, informasi corona merembet hingga Jakarta dan Jawa
tengah. Dalam beberapa hari, korban
bertambah sangat cepat. Bertambahnya korban corona, membuat saya jadi mikir
ketika itu. Melihat berita-berita di televisi betapa ganasnya penyebaran virus,
bukan tidak mungkin akan berimbas pada model pembelajaran di sekolah.
Hari Senin, 16 Maret 2020, saya
bersama teman-teman, masih seperti biasa masuk sekolah, melaksanakan
pembelajaran. Tetapi di hari itu pula, sudah mulai ada instruksi dari pemprov,
agar pembelajaran sekolah diganti pembelajaran di rumah dengan moda daring (on
line) hingga 14 hari berikutnya. Dalam hitung-hitungan, tidak mungkin berakhir
dalam 14 hari, pasti lebih, bisa berbulan-bulan.
Satu hari selanjutnya, kami,
tenaga pengajar, sudah dipastikan tidak berangkat lagi, tidak mengajar lagi,
sudah tidak melaksanakan pembelajaran di kelas. Semua mode pembelajaran diubah
menjadi daring, untuk semua mapel, untuk semua sekolah di DKI Jakarta, bahkan
mulai merembet ke banyak Provinsi. Entah sampai kapan mengajar online itu
selesai. Seingat saya, mungkin sekaranglah “libur” paling lama dalam dunia
pendidikan.
Bagi saya, sebenarnya
pembelajaran online bukan sesuatu yang baru, saya sendiri sering melaksanakan pembelajaran
itu, hanya saja frekuensinya tidak se-intens sekarang. Untuk keadaan ini, saya
dan semua guru, harus siap dengan segala kemampuan melakukan pembelajaran
terbaik moda daring.
Saya menceritakan untuk saya
sendiri, ternyata pembelajaran mode daring yang full, intens, tiap hari, bukan
sesuatu yang mudah dilaksanakan terutama menyangkut gaya mengajar. Seringkali,
yang saya amati, teman-teman guru, banyak yang tidak murni melaksanakan
pembelajaran online, tetapi tugas online, dan terjadi di banyak sekolah,
sehingga keluhan siswa dengan banyaknya tugas patut dimaklumi.
Seperti yang sudah diceritakan,
saya mungkin sudah sering menggunakan IT untuk mengajar, tetapi dalam kondisi
seperti saat ini, saya merasa ternyata mengajar dengan full IT tiap saat, sangat
menguras banyak pikiran dan tenaga, paling tidak ini untuk saya. Entah, apa
karena memang saya mengajar mapel matematika yang butuh penjelasan dan
kejelasan, yang jelas saya merasa, tiap malam harus berpikir bagaimana esok
hari bisa menjelaskan siswa dengan sebaik-baiknya tentang materi yang akan
disampaikan. Hal ini emang agak aneh, mungkin ada yang bertanya” memang dulu
tidak begitu?”. Itulah bedanya, kalau dulu tidak online, dulu langsung masuk
kelas bisa berinovasi, tapi sekarang jarak jauh, beda, sangat beda.
Tiap malam, saya harus melek
hanya untuk membuat video, video penjelasan materi, saya upload di youtube,
saya share di google classroom dan berdiskusi di sana. Cuma ya begitu, tiap
hari tidur malam. Saya sempat berpikir, ternyata report juga ya kalau tiap hari
harus online, tapi memang begitu, harus begitu supaya yang saya sampaikan
tersampaikan, yang saya jelaskan via youtube terjelaskan.
Kadang pula saya berpikir, apa
hanya saya saja yang report-report? Ah...saya tidak perduli, pikiran itu hanya
akan membuat saya mandeg. Saya harus tetap berpikir, materi saya itu harus
dijelaskan, tidak cukup dengan tulisan dan baca. Sesekali saya pantau,
rekan-rekan guru banyak juga yang berinovasi pembelajaran.
Memang, di saat seperti ini,
banyak pengajar, guru dan dosen, sangat giat berinovasi. Yang malas, ya malas,
yang berkarya ya berkarya. Tapi, entah apapun kondisi-kondisi teman-teman, saya
baru sadar ternyata mengajar dengan full daring sangat susah. Belum lagi kalau
habis ulangan, harus dikoreksi, dinilai, dan semua online. Selain itu, saya
juga harus memantau siswa-siswa yang aktif siapa, yang tidak siapa. Tidak lupa
juga, harus mengirim laporan mengajar ke pihak terkait. Wah...mantap kan.
Saya harus jujur, keadaan semacam
ini, memang membuka pengalaman baru bagi siapa saja. Dalam kontkes belajar,
siswa dan orangtua berpacu belajar bersama. Orangtua kian memahami bagaimana
teknologi sangat membantu proses pembelajaran meski pada saat bersmaan menguras
banyak energi orangtua.
Entah, sampai kapan hal ini akan
berakhir. Semoga saja tidak berlama-lama. Cerita berbeda mungkin akan menimpa siapa saja
pada masa ini. Bagaimana ceritamu??
Rabu, 18 Maret 2020
HIKMAH COVID 19
Dalam beberapa bulan terakhir, dunia digunjangkan dengan wabah virus corona atau yang lebih dikenal dengan istilah Corona Virus Deases (COVID 19). Penamaan COVID 19 merujuk pada istilah kasus-kasus serupa yang sudah dikantongi PBB. Di banyak negara, covid 19 sangat mengganggu pergerakan roda pemerintahan. Kasus itu dapat memberikan instabilitas baik ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan.
Di Indonesia, covid 19 mulai terdeteksi masuk pada akhir Februari sampai awal Maret 2020. Perbincangan ramai saat warga Jepang yang bertandang ke Indonesia menjadi carrier bagi warga Depok. Pasca kejadian Depok, mulailah pemerintah buka suara terkait yang terjadi sebenarnya. Berita dan himbauan terus bertebaran di media sosial. Yang paling bergengsi adalah kebijakan Walikota Solo, disusul Gubernur DKI Jakarta, hingga Gubernur Jawa Tengah untuk menutup sementara sekolah-sekolah (belajar di rumah) sampai 14 hari ke depan yang dimulai tanggal 16 Maret lalu.
Tidak hanya itu, selang beberapa hari, untuk meminimalisir korban, Pemerintah melalui kemenPAN-RB mengeluarkan regulasi bahwa PNS bisa melakukan work from home (kerja dari rumah). Dari kejadian itu, paling tidak dapat diambil hikmah sebagai berikut.
- Masa kerja dari rumah, menjadi arena berkumpul bersama keluarga.
- Orangtua dapat terlibat langsung pembelajaran online bersama putra-putrinya.
- Bagi guru, dapat memanfaatkan pembelajaran online yang mungkin sejauh ini belum dipraktekan.
Itulah sedikit hikmah yang dapat diambil dari kejadian covid 19, pembaca dapat menambah yang lainnya.
Selasa, 25 Februari 2020
ADA APA DI AKM?
Assesment Kompetensi Minimal (AKM) menjadi istilah baru dan sedang hangat dibicarakan, baik dalam lingkungan sekolah maupun institusi yang berhubungan dengan pendidikan. AKM, demikian biasa disebut, merupakan penilaian pengganti ujian nasional (UN) yang sedianya akan dilaksanakan mulai tahun ajaran mendatang atau tahun ajaran 2020/2021.
Sebagai istilah baru, AKM menjadi buah bibir yang tak tuntas-tuntas diobrol. Apa dan bagaimana AKM itu dilaksanakan? bagaimana juga bentuk soal yang diberikan?
Sesuai rencana, Rabu (26/02/2020), Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta, akan melangsungkan simulasi asesement, yang menurut informasi, soalnya memiliki kemampuan bernalar tinggi.
Saya, sebagai bagian keluarga besar MAN 4, juga dijadwalkan akan mengikuti AKM pada hari yang sudah ditentukan. Saya sendiri belum tahu bentuk dan jenis soal yang akan dimunculkan. Dari berbagai sumber, soal berbentuk uraian, pilihan ganda, soal pilihan, dan survey karakter.
Soal AKM berbeda-beda setiap guru, soal diacak dan tidak
tahu seorang guru dapat soal yang mana. Sebagai gambaran, berikut saya tulis
dalam blog ini.
Hari rabu, yang ditunggu, datang juga. Masuk laboratorium
komputer pukul 07.30 WIB, sudah penuh teman-teman yang siap mengerjakan soal
AKM. Hmm..lanjut saya login dan masuk aplikasi besutan PUSPENDIK itu. Ternyata,
untuk soal AKM level satu jumlahnya 10 soal yang harus diselesaikan selama 15
menit, kemudian bagian berikutnya juga sama 10 soal dalam waktu 30 menit.
Secara umum, bentuk soal AKM menyangkut masalah kasus yang kita harus
menyelesaikan apabila berada dalam pemeran di kasus itu.
Bagian pertama, ada soal-soal pilihan ada juga soal
kecocokan/keseuaian naskah soal dengan beberapa kesimpulan.
Pada bagian pertama, terdapat berita dan informasi tentang
sampah plastik. Layaknya berita, naskah tersebut disusun seperti media masa,
hanya saja beberapa paragraf. Pertanyaan kemudian muncul tentang pilihan yang
sesuai dengan naskah. Selain itu, kita juga diminta untuk mengambil intisari
yang sama dari beberapa naskah yang disajikan.
Soal uraian. Di soal ini disajikan sebuah data tentang
jumlah langkah perhari dan usia harapan hidup di beberapa negara. Di situ ada
keterangan bahwa menurut dokter semakin banyak langkah perhari, maka jumlah
usia harapan hidup semakin tinggi. Kemudian ditanyakan apakah ada
ketidaksesuaian data yang disajikan dengan pernyataan dokter tersebut dan
alasannya kenapa. Ketikan huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita
betul-betul harus bisa menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.
Untuk soal numeris, saya hanya menemukan kurang lebih 3 - 4
soal. Dalam soal tersebut, ada penjual martabak yang menyediakan 2 jenis
martabak, tebal dan tipis. Masing-masing martabak memiliki empat rasa yang
berbeda/isi yang berbeda. Selain itu, martabak juga dilapisi dua keju yang
berbeda. Kita diminta menentukan berapa komposisi martabak yang dijual apabila
ada yang membeli, juga pertanyaan terkait martabak jika begini, jika begitu.
Soal uraian. Di soal ini kita diminta memberikan alasan
bagaimana caranya membuat teknologi nirkabel yang masih mahal diakses oleh
publik, bisa lebih terjangkau daya belinya di masa depan. Ketikan
huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita betul-betul harus bisa
menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.
Soal pihan sesuai atau tidak sesuai. Di soal ini disajikan
naskah bacaan yang cukup panjang, bahkan kita harus menyekrolnya agar bisa
membaca keseluruhan. Temanya tentang Indonesia darurat sampah plastik. Kemudian
ada dua atau tiga pernyataan terkait naskah tersebut, dan kita dimintai
pendapat dengan cara memilih jawaban ‘sesuai’ atau ‘tidak sesuai’. Tentu saja
kalau tidak memhami bacaan kita tidak akan bisa memilih dengan tepat.
Soal Pilihan Ganda. Di soal ini disajikan gambar poster
bertema bebas kantong sampah plastik lengkap dengan data angka dan persentase.
Kemudian kita dimintai pendapat apakah dengan membeli kantong plastik di pusat
perbelajaan akan berdampak terhadap berkurangnya sampah plastik. Kita diminta
memilih salah satu dari lima alternatif jawaban.
Soal pilihan. Di soal ini disajikan sebuah diagram. Di situ
ada titik-titik yang letaknya acak bertuliskan nama-nama Negara. Kemudian kita
disuruh menentukan letak sebuah Negara dibandingkan dengan Negara lain. Apakah
terletak di atas, di bawah, samping kiri atau kanan, atau yang paling ujung
kanan atau kiri. Di sini juga dibutuhkan ketelitian, titik-titik itu letaknya
terlalu dekat dan berdempetan. Cukup membingungkan, dan harus membelalakkan
mata agar lebih jelas.
Soal pilihan opini atau fakta. Di soal ini disajikan sebuah
gambar tentang prilaku belanja seseorang. Kemudian ada lima pernyataan terkait
dengan gambar. Di setiap pernyataan kita diminta memilih apakah pernyataan itu
‘opini’ atau ‘fakta’.
Soal AKM berbeda-beda setiap guru, soal diacak dan tidak
tahu seorang guru dapat soal yang mana. Sebagai gambaran, berikut saya tulis
dalam blog ini.
Hari rabu, yang ditunggu, datang juga. Masuk laboratorium
komputer pukul 07.30 WIB, sudah penuh teman-teman yang siap mengerjakan soal
AKM. Hmm..lanjut saya login dan masuk aplikasi besutan PUSPENDIK itu. Ternyata,
untuk soal AKM level satu jumlahnya 10 soal yang harus diselesaikan selama 15
menit, kemudian bagian berikutnya juga sama 10 soal dalam waktu 30 menit.
Secara umum, bentuk soal AKM menyangkut masalah kasus yang kita harus
menyelesaikan apabila berada dalam pemeran di kasus itu.
Bagian pertama, ada soal-soal pilihan ada juga soal
kecocokan/keseuaian naskah soal dengan beberapa kesimpulan.
Pada bagian pertama, terdapat berita dan informasi tentang
sampah plastik. Layaknya berita, naskah tersebut disusun seperti media masa,
hanya saja beberapa paragraf. Pertanyaan kemudian muncul tentang pilihan yang
sesuai dengan naskah. Selain itu, kita juga diminta untuk mengambil intisari
yang sama dari beberapa naskah yang disajikan.
Soal uraian. Di soal ini disajikan sebuah data tentang
jumlah langkah perhari dan usia harapan hidup di beberapa negara. Di situ ada
keterangan bahwa menurut dokter semakin banyak langkah perhari, maka jumlah
usia harapan hidup semakin tinggi. Kemudian ditanyakan apakah ada
ketidaksesuaian data yang disajikan dengan pernyataan dokter tersebut dan
alasannya kenapa. Ketikan huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita
betul-betul harus bisa menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.
Untuk soal numeris, saya hanya menemukan kurang lebih 3 - 4
soal. Dalam soal tersebut, ada penjual martabak yang menyediakan 2 jenis
martabak, tebal dan tipis. Masing-masing martabak memiliki empat rasa yang
berbeda/isi yang berbeda. Selain itu, martabak juga dilapisi dua keju yang
berbeda. Kita diminta menentukan berapa komposisi martabak yang dijual apabila
ada yang membeli, juga pertanyaan terkait martabak jika begini, jika begitu.
Soal uraian. Di soal ini kita diminta memberikan alasan
bagaimana caranya membuat teknologi nirkabel yang masih mahal diakses oleh
publik, bisa lebih terjangkau daya belinya di masa depan. Ketikan
huruf/karakter jawaban dibatasi jumlahnya. Jadi kita betul-betul harus bisa
menjawab dengan kalimat yang seefektif, mungkin.
Soal pihan sesuai atau tidak sesuai. Di soal ini disajikan
naskah bacaan yang cukup panjang, bahkan kita harus menyekrolnya agar bisa
membaca keseluruhan. Temanya tentang Indonesia darurat sampah plastik. Kemudian
ada dua atau tiga pernyataan terkait naskah tersebut, dan kita dimintai
pendapat dengan cara memilih jawaban ‘sesuai’ atau ‘tidak sesuai’. Tentu saja
kalau tidak memhami bacaan kita tidak akan bisa memilih dengan tepat.
Soal Pilihan Ganda. Di soal ini disajikan gambar poster
bertema bebas kantong sampah plastik lengkap dengan data angka dan persentase.
Kemudian kita dimintai pendapat apakah dengan membeli kantong plastik di pusat
perbelajaan akan berdampak terhadap berkurangnya sampah plastik. Kita diminta
memilih salah satu dari lima alternatif jawaban.
Soal pilihan. Di soal ini disajikan sebuah data dan beberapa
alternatif jawaban yang berbentuk grafik/diagram sumbu x,y. Kita di suruh
memilih gambar grafik mana yang benar sesuai dengan data yang disajikan. Kita
boleh memilih jawaban lebih dari satu. Kita harus teliti, sumbu tegak untuk
data apa, dan sumbu mendatar untuk data apa. Kalau tidak, kita akan salah
memilih.
Soal pilihan. Di soal ini disajikan sebuah diagram. Di situ
ada titik-titik yang letaknya acak bertuliskan nama-nama Negara. Kemudian kita
disuruh menentukan letak sebuah Negara dibandingkan dengan Negara lain. Apakah
terletak di atas, di bawah, samping kiri atau kanan, atau yang paling ujung
kanan atau kiri. Di sini juga dibutuhkan ketelitian, titik-titik itu letaknya
terlalu dekat dan berdempetan. Cukup membingungkan, dan harus membelalakkan
mata agar lebih jelas.
Soal pilihan opini atau fakta. Di soal ini disajikan sebuah
gambar tentang prilaku belanja seseorang. Kemudian ada lima pernyataan terkait
dengan gambar. Di setiap pernyataan kita diminta memilih apakah pernyataan itu
‘opini’ atau ‘fakta’.
Sesi berikutnya adalah survey karakter dengan durasi waktu
30 menit. Kebetulan soal yang saya kerjakan sebanyak 13 soal. Bentuk soalnya
pilihan ganda. Di soal diberikan stimulus, kemudian kita disuruh berpendapat
dengan cara memilih salah satu dari lima alternatif jawaban. Alhamdulillah
redaksi soal dan alternatif jawabannya yang tersedia tidak terlalu panjang.
Adapun soal-soal yang saya ingat adalah:
Si A adalah ketua OSIS akan mengadakan pertunjukan pentas
seni dengan menyajikan budaya nasional. Tapi ada temannya yang menginginkan
yang dipentaskan bernuansa Korea. Apa yang harus dilakukan A agar pentas
tersebut tetap berjalan?
Ada juga, si A sudah menabung untuk membeli HP tetapi teman
sebangkunya tidak memiliki buku karena kena musibah. Kita diminta memberi
solusi pada kasus tersebut.
Si A adalah siswa SMP. Karena ada sesuatu hal ia agak
kesiangan ketika hendak berangkat sekolah, tapi A tidak ingin terlambat.
Kebetulan di rumah ada sepeda motor milik Ibu. Apa yang harus dilakukan oleh si
A?
Jadi, tidak ada apa-apa di AKM, biasa saja, soalnya hanya kasus, mungkin agak subjektif juga ya. Apapun, sila simpulkan sendiri...😍
Senin, 24 Juni 2019
BILANGAN BERTASBIH???
Pemahaman yang paling dasar dari matematika adalah tentang bilangan. Apakah ada yang tahu ujung dari bilangan?misalnya bilangan asli saja? Bilangan asli dalam matematika adalah bilangan yang berawal dari 1, 2, .. ., hampir semua diam dan hanya menjawab tak hingga. Kenapa hanya tak hingga dan tidak berani mengatakan bilangan tertentu. Karena yang pasti, pada saat mengatakan bilangan tertentu akan ada bilangan lain setelah itu. Jadi, hakikatnya bilangan itu berjalan, meski ada filosuf yang mengatakan bahwa yang berjalan juga diam. Coba kita perhatikan stopwatch, ketika dimulai menghitung kita akan mengatakan sedang berjalan. Bilangan itu bergerak terus entah sampai mana, mungkin sampai Tuhan menghentikannya dari kemanfaatan untuk manusia.
Hidup juga berjalan, darah berjalan mengalir, bumi berjalan mengikuti putarannya, umur manusia berjalan mengikuti usianya (mati itu berhenti dari putaran usia), untuk bisa "hidup" manusia harus berjalan/bekerja. Dan simbol berjalan itu ka'bah saat jamaah thowaf mengelilingi kabah. Jika bumi berhenti berjalan dalam putaran, kita bisa menjawab apa yang terjadi.
"Bertasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan di bumi". Guru saya pernah bilang, kata ما dalam ayat di atas merujuk pada makhluk "tak berakal", artinya
jika yang dimaksud "apa-apa" itu adalah benda mati, maka immateri seperti matematika juga bertasbih, hanya bertasbihnya seperti apa kita yang belum bisa mendefinisikan. Perputaran pada saat _thowaf_ adalah tasbih sehingga saya menyimpulkan semua pergerakan benda itu tasbih. Mungkin itulah sebabnya ketika orang niat bergerak/bekerja untuk keluarga dianggap suatu ibadah. Bergerak untuk belajar juga ibadah. Orang yang bergerak berbuat jahat sejatinya juga menyimpang dari tasbih padaNya.
Tidak ada yang tidak bergerak, kecuali gerakan itu sendiri
Allah a'lam
Hidup juga berjalan, darah berjalan mengalir, bumi berjalan mengikuti putarannya, umur manusia berjalan mengikuti usianya (mati itu berhenti dari putaran usia), untuk bisa "hidup" manusia harus berjalan/bekerja. Dan simbol berjalan itu ka'bah saat jamaah thowaf mengelilingi kabah. Jika bumi berhenti berjalan dalam putaran, kita bisa menjawab apa yang terjadi.
"Bertasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan di bumi". Guru saya pernah bilang, kata ما dalam ayat di atas merujuk pada makhluk "tak berakal", artinya
jika yang dimaksud "apa-apa" itu adalah benda mati, maka immateri seperti matematika juga bertasbih, hanya bertasbihnya seperti apa kita yang belum bisa mendefinisikan. Perputaran pada saat _thowaf_ adalah tasbih sehingga saya menyimpulkan semua pergerakan benda itu tasbih. Mungkin itulah sebabnya ketika orang niat bergerak/bekerja untuk keluarga dianggap suatu ibadah. Bergerak untuk belajar juga ibadah. Orang yang bergerak berbuat jahat sejatinya juga menyimpang dari tasbih padaNya.
Tidak ada yang tidak bergerak, kecuali gerakan itu sendiri
Allah a'lam
Selasa, 12 Februari 2019
INTEGRAL : CARA MENGHTUNG NIKMAT ALLAH SWT
Di kesempatan awal ramadhan 1439 H ini saya ingin berbagi
tulisan tentang nikmat Allah yang kita terima begitu besar sekaligus mencoba
menghitungya dengan matematika. Hitungan ini hanya sebagai alat untuk mempertegas
tentang ayat yang dimaksud sekaligus menambah kesadaran kita sebagai hambaNya
yang harus senantiasa bersyukur.
Sebelumnya, saya mohon maaf pada guru-guru dan teman-teman
saya yang mungkin lebih paham bahasa arab dan kaidahnya. Saya hanya meraba-raba
sedikit pengetahuan yang saya miliki dan kiranya membuka maklum atas apa yang
saya tulis jika terjadi kesalahan. Satu lagi, kalau ada masukan japri aja
ya...xixixi
Ketika saya lulus MA (Madrasah Aliyah), acara lepas tasyakur
yang biasa dilakukan oleh madrasah-madrasah pasca ujian nasional, latar
acaranya bertuliskan “وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ
لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ”, artinya
kurang lebih “jika kamu menghitung/menyebut (mencacah) nikmat Allah maka tidak
akan bisa dihitung jumlahnya, tak berhingga”(QS. AnNahl: 18).
Sedikit saya urai ayat itu dalam pandangan nahwu dan shorof.
Bahwa kata تَعُدُّوا memiliki
akar kata عد. Saya ingat sekali, kata ini juga sewazan
dengan “madda”, “yamuddu”. Kalau dibahas lebih jauh “madda” itu bina mudho’af. Dalam
kamus Al-Munawwir, عد searti dengan hasiba
dan ahso yaitu menghitung. Ahso sendiri dalam masyarakat Cina sebagai
alat untuk menghitung. Kembali ke kata “madda”, تَعُدُّوا adalah bentuk fiil mudhori dengan
mukhotobnya “kalian”. Fiil mudhori (present tense/ continous tense) boleh
dilakukan berulang pada saat ini. Maksudnya, ayat itu menunjukan bahwa silakan
kita terus melakukan hitungan (mencacah) kapanpun, saat inipun. Saya lebih suka
menggunakan arti “mencacah” agar lebih mudah untuk menghitung. Dalam
matematika, ada dua istilah populer bilangan, yaitu diskret dan kontinu.
Diskret berarti dapat dihitung dengan mencacah, dengan tangan. Adapun kontinu
adalah pekat, bilangannya tidak bisa dihitung dengan tangan, misal 1,2234 dan
seterusnya. Kontinu itu mirip bilangan riil, atau bahasa sederhananya
pecahan-pecahan (meski tidak begitu tepat).
Jadi seolah-olah ayat itu ingin mengajak kita semua untuk
mencacah saja, tidak perlu dengan bilangan riil yang sulit, cukup dengan
menghitung menggunakan jari. Yang dicacah adalah nikmat Allah. Kata “nikmat”
juga unik, mengapa menggunakan kata dasar tunggal, bukan “niam” jamak dari kata
nikmat. Hal ini juga membuka kesadaran kita bahwa Allah swt memberikan
kesempatan kepada kita untuk menghitung (dengan jari) satu nikmat saja yang
Allah berikan. Sanggupkah? padahal sudah dimudahkan dengan hitungan diskret.
Sekarang saya mencoba menjelaskan penghitungan satu nikmat
saja dengan matematika. sebelum saya bahas lebih jauh, paling awal kita akan
sepakat dulu dengan istilah “nikmat”. Nikmat itu apa? Pembahasan kali ini, saya
tidak mengartikan nikmat sebagai kata sifat, tetapi digunakan sebagai kata
benda, yaitu pemberian Allah (KBBI online).
Nikmat Allah dapat berupa fisik dan nonfisik. Agar lebih
mudah, penghitungan nikmat ini juga dibatasi pada bentuk fisik. Nikmat fisik
ini lebih mudah dihitung daripada nonfisik. Sekarang, kita breakdown
lagi nikmat fisik yang lebih mudah lagi yaitu nikmat yang ada dalam diri kita.
Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan banyak lagi. Dari mata, kita
bisa buka lagi nikmat yang lain yaitu bagian-bagian mata misal pupil, retina,
kornea, saraf, alis, bulu mata dan sebagainya. Di dalam retina, misalnya,
terdapat syaraf-syaraf dan sel-sel lagi yang lebih kecil. Andaikan sel yang
terkecil dari yang terkecil itu diberi simbol
(baca: epsilon). Epsilon biasanya
melambangkan bilangan terkecil positif yang mendekati nol. Epsilon bisa kita
ilustrasikan sebagai sel yang terkecil dari yang terkecil tadi. Jika manusia
hidup dari pertama kali ditiupkan ruh sampai ajal menjemput berarti kita bisa
membuat interval waktu (t) sebagai 0 < t <
.
Hubungan antara waktu (t) dan kehidupan manusia dapat
dilukiskan secara grafis sebagi sebuah fungsi.
Andaikan luas di bawah kurva adalah luas nikmat sel terkecil
kehidupan setiap orang. Ingat luas sel terkecil (Epsilon). Kurva nampak
bergelombang tidak linier, karena memang kehidupan tidak selalu monoton, tidak
selalu bahagia atau sedih, tidak selalu konstan. Sekarang kita akan menghitung
luas daerah sel terkecil tersebut di bawah kurva. Menggunakan Riemann Sum, kita
bisa menghitung luas daerah di bawah kurva meski batas atasnya tidak beraturan.
Riemann sum merupakan metode menghitung luas kurva dengan cara membuat
partisi-partisi yang membentuk persegi panjang atau trapesium. Semakin banyak
partisi, tingkat kesalahannya semakin kecil.
Menghitung luas daerah yang dibatasi oleh a < t < b,
kita hanya menghitung dengan batas a dan b yangmerupakan sebagian
dari waktu kehidupan seseorang, menggunakan rumus integral sebagai berikut.
Jika dalam satu sel terkecil saja mendapatkan satu rumus
integral, maka integral rangkap berapa untuk menghitung satu syaraf dalam satu
komponen retina. Boleh jadi untuk satu sel saja didapat rumus intergral.
Padahal dalam syaraf terdapat sel-sel, lalu berapa rangkap
untuk satu syaraf. Lebih jauh lagi intergral rangkap berapa untuk satu nikmat
retina? TIDAK BISA DIHITUNG, itu baru retina, belum bagian mata yang lain. Oleh
karena itu, benarlah ayat Alquran sebagaimana dijelaskan di depan.
Wallahu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)
